Friday, March 28, 2014

Penculikan (Jiwa) Anak

ilustrasi - usbornebooks
Beberapa waktu ini berita penculikan bayi terdengar santer di pemberitaan media. Entah apa yang ada dibenak pelaku sehingga setega itu memisahkan anak dari pelukan orang tuannya. Memutus kasih sayang yang sangat dibutuhkan pada awal perkembangan balita.
Tak seorangpun bisa menerima kejahatan ini. Semua orang akan berpikir bagaimana anak yang masih berusia balita itu harus tumbuh tidak dalam lindungan kedua orang tuanya.

Penculikan bayi memisahkan secara fisik dan psikis anak dari orang tuanya. Dan demi mendapatkan kembali para orang tua akan rela memberikan apapun yang dimilikinya... ya apapun.

Namun sadarkah bahwa penculikan balita sering terjadi di sekitar kita. Anak anak tumbuh tanpa ‘kehadiran’ orang tuanya disampingnya. Sosok pelindung yang bernama orang tua hanya hadir dalam bentuk televisi dan gadget. Dan para orang tua sama sekali tidak ada kekhawatiran akan hal ini.


Wednesday, February 5, 2014

Sibling Rivalry

sumber - net
‘Ayaaaahhh…!!! ini kakak jelek ambil mainanku..!’
‘Pinjam masak ngk boleh, kamu kan sering dibeliin mainan… dasar cengeng!


Pertengkaran antara saudara seperti dialog di atas bisa saja sering terjadi. Namun jika dilihat dari kata kata yang muncul, ini bukan perebutan permainan biasa. Ada perkataan yang menunjukkan perasaan tidak terima dari sang kakak karena adiknya lebih sering diberikan mainan.
Perbedaan jumlah mainan bisa menjadi masalah besar jika anak belum memahami tentang konsep berbagi. Bagi anak adil adalah sama. Tidak peduli perbedaaan kebutuhan antara diri sang anak dengan saudaranya.

Dalam psikologi sebuah kondisi dimana terjadi persaiangan antar saudara untuk mendapatkan perhatian dari orang tua sering disebut sibling rivalry.
Bentuknya bisa dalam berbagai perilaku, mulai dari saling mengejek, bertengkar, memukul tanpa sebab yang jelas atau bahkan bisa juga dalam perilaku regresi (kemunduran dalam tahap perkembangan sebelumnya), misalnya kakak yang tiba tiba mengompol setelah kelahiran adiknya.

Monday, July 15, 2013

Rajin Sholat

Kenapa anak saya susah kalo disuruh sholat,
 padahal bacaan sudah pinter lo.. di sekolah aja nilai praktek sholatnya bagus



gambar - internet
Ada beberapa hal yang bisa dijadikan acuan

Pertama, masalah usia.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda agar kita memerintahkan anak – anak kita untuk shalat pada usia tujuh tahun dan memukulnya jika tidak melakukan pada usia sepuluh tahun.

Pertanyaannya kenapa angka usia yang disebut adalah TUJUH dan SEPULUH ?
Kenapa tidak sejak 3 tahun atau 5 tahun..?

Tuesday, June 18, 2013

Sekolah ? SIAAP!!


“Andaikan setiap guru dan orang tua bisa membuat penasaran kepada anak tentang semua mata pelajaran, maka tidak akan ada anak malas dan takut sekolah”.

Sekolah ? SIAAP
Sekolah itu harus menyenangkan, harus membuat anak tidak sabar segera mendatanginya setiap hari untuk mengarungi lautan pengetahuan yang tidak terbatas.
Sekolah itu harus memiliki guru yang membuat mulut anak didiknya menganga karena mendengar penjelasannya.
Sekolah itu harus memiliki suasana yang membuat setiap anak terkejut kenapa tiba - tiba sudah jam pulang sekolah.

Adakah Sekolah seperti itu ? ada, tapi pastilah hanya segelintir di antara ribuan sekolah yang semuanya mengiklankan kehebatan sekolahnya. Namun ternyata kehebatan sekolah hanyalah salah satu faktor bagi anak untuk enjoy dan sukses dalam menimba ilmu. Masih ada faktor A alias faktor ANAK yang menjadi faktor utama, tentu saja disamping orang tua sebagai penanggungjawab utama pendidikan anak. Kesiapan motorik, kognitif, sosial, dan mental anak adalah yang utama agar sekolah tidak lagi menjadi aktivitas yang menyeramkan bagi anak dan stressor bagi orangtua.  

Sekolah sebenarnya dimulai dari SD (Sekolah Dasar) bukan TK/KB.  Karena semua aktivitas sebelum SD adalah masa mempersiapkan anak untuk memasuki dunia sekolah, maka TK/KB atau sejenisnya sering disebut juga Preschool.
Namun, kesiapan untuk kematangan sekolah juga bukan sepenuhnya tanggungjawab preschool. Kelompok bermain atau TK hanyalah tempat yang secara materi sudah disusun untuk membantu orangtua mempersiapkan anak untuk memasuki lingkungan sekolah yang sebenarnya. Jadi peran orangtua sebagai penanggung jawab utama pendidikan anak harus mampu mengetahui sejauh mana kesiapan anak untuk sekolah dan mempersiapkan sebaik mungkin.

Wednesday, May 1, 2013

Baby Blues Syndrome


hallmark.com
Baby Blues yang akan kita bahas disini bukanlah judul lagu patah hatinya George Baker yang terkenal itu, namun sebuah istilah sindrom yang terjadi pada wanita pasca kelahiran.
Disebut juga post partum blues atau post partum distress syndrome yang artinya sama yaitu tekanan emosi yang terjadi pasca melahirkan. Dalam beberapa literature menyebutkan bahwa istilah ini sudah dikenal di dunia kedokteran sangat lama. Tahun 1875, seorang peneliti, SAVAGE menulis tentang sebuah keadaan disforia pasca persalinan yang disebutnya milk fever. Disebut demikian karena kondisi ini bersamaan dengan keluarnya hormon prolaktin yang merangsang keluarnya ASI.

Friday, April 5, 2013

Anak Phobia atau Takut ?

 Phobia, identik dengan perilaku seseorang yang mengekspresikan takutnya berlebihan. Entah takut pada macan, pada ketinggian, pada kucing, pada dokter, pada gelap, atau apapun yang bagi seseorang bisa membuat takut. Tapi benarkah itu phobia ? atau sekedar rasa takut biasa ?

Phobia atau rasa takut biasa ?
pic-hypnotherapistshelffield.co.uk
Oke sebelumnya akan kita lihat bagaimana perkembangan rasa takut pada anak.
Sebelum usia 1 tahun (sekitar bulan ke 5) seorang anak sudah mulai mampu mengenali lingkungan. Anak sudah mulai belajar membedakan mana lingkungan yang sering dilihat dan mana lingkungan yang asing. Termasuk mengenali orang – orang yang berada di sekelilingnya.
Anak mulai merasakan ketidaknyamanan dan kecemasan jika tidak menemukan lingkungan atau sosok yang dikenal dengan baik. Perasaan ini diekspresikan anak dengan raut muka tegang, gelisah,  atau sampai pada puncaknya, menangis.

Setelah usia 2 tahun, imajinasi anak berkembang pesat. Anak seringkali kesulitan membedakan antara kenyataan dan fantasi. Anak sangat mudah terpengaruh pada tokoh film yang dilihatnya dan cerita - cerita dari orang di sekelilingnya. Sosok monster, robot, hantu sangat familier terdengar di usia ini.
Bahkan karena tingginya daya imajinasi, anak bisa merasa sangat takut pada suara - suara tertentu, biasanya yang berbunyi keras dan menganggu. Misalnya halilintar, petasan atau hanya sekedar suara pompa air yang berbunyi di malam hari.

Menjelang usia 5 tahun, anak mulai mampu membedakan antara realitas dan fantasi. Ketakutannya mulai berdasar pada kenyataan. Meskipun sebenarnya tokoh fiksi perfilman masih sedikit dominan di pikirannya. Media masa, terutama televisi bisa menjadi awal dari sumber ketakutannya. Mungkin karena informasi yang diterima hanya sepotong dan kurang mampu dipahami. Maklum pengetahuan anak kecil masih terbatas untuk menyerap semua informasi dari televisi.
 
Pada usia sekolah penyebab ketakutan anak secara umum sama dengan penyebab ketakutan pada orang dewasa. Hanya saja orang dewasa memiliki daya nalar yang lebih baik untuk mengelola ketakutannya.


Wednesday, January 9, 2013

Belajar itu (harus) Menyenangkan



BELAJAR ITU...

... bikin seneng
... bikin penasaran
... bikin kesalahan
... bikin pengalaman
... bikin ketagihan
... bikin ngerti
... bikin bisa


Bagi anak proses belajar itu harus menyenangkan. Karena anak TIDAK TAHU kenapa harus belajar. Pemahaman mereka tentang masa depan itu kosong. Yang ada hari ini dan sekarang.

Bisakah kita bayangkan jika sekarang kita sebagai orang tua wajib belajar beberapa materi yang diluar bayangan kita. Misal pelajaran bahasa eskimo atau hitung hitungan pembuatan pesawat ulang alik atau hal hal lain yang diluar 'nalar' kita ? padahal saat ini kita terbebani dengan kebutuhan mencari penghasilan, harus liburan, menghadiri resepsi pernikahan dan lain sebagainya. Apakah kita termotivasi untuk mempelajarinya ? TIDAK... Kurang kerjaan apa?@$%!